Malam Pertama di Rumah Baru

Bermula dari satu keluarga yang pindah rumah ke rumah baru sekitar pertengahan maret 1999. Malam itu, anak tertua dari lima bersaudara yaitu Radit yang masih menduduki bangku SMP tidur sendirian di kamar, di lantai dua. Adik-adik dan orangtuanya semuanya tidur di lantai satu.

Seperti lazimnya orang yang baru pindah rumah dengan suasana yang baru, Radit susah tidur. Radit tidur-tiduran, menunggu kantuk yang enggak kunjung datang. Segala cara udah Radit lakukan untuk bisa tidur dari mulai mendengarkan music slow, sampe ngitung domba yang akhirnya gagal karena Radit malah jadi gak bisa tidur dan lapar.

Radit masih ingat bau khas rumah baru malam itu campuran antara bau cat yang baru saja kering dan lem kayu dari lemari yang baru terpasang. Baunya menusuk, memaksa untuk dicium, bau yang menemani Radit susah tidur.

Di antara bunyi detikan jarum jam yang memenuhi kamar, terdengar suara pintu ditetuk. Radit menjawab, ‘Ya? Masuk’
Ibu Radit yang memakai daster, membuka pintu. ‘Kok kamu belum tidur? Udah, pukul 11 loh’.
‘iya, belom, Ma.’ Radit bangun dari tempat tidur, duduk di pinggir kasur, ‘Ini lagi nyoba Ma.’
Ibunya memandangi ke penjuru kamar Radit. Dia diam sebentar, tersenyum lalu bertanya, ‘Kamu takut ya? makannya belom tidur?’
‘Enggak, kenapa harus takut?’
‘Ya, siapa tahu rumahnya da hantunya, hiiiiiii….,” kata Ibunya, mencoba menakut-nakuti.
‘Enggak takut, Ma,’ jawab Radit
‘Kikikikiki.’ Ibunya mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan minum bir sewaktu hendak photobox. ‘Kikikikikiki.’
‘Aku enggak takut ta-‘
‘KIKIKIKIKI!’ ibunya makin menjadi.
‘Ma, ‘ kata Radit. ‘kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa datang loh.’
‘JANGAN NGOMONG GITU, RADIT!’ Ibunya sewot. ‘Kamu durhaka ya nakut-nakutin orangtua kayak gitu! Awas ya, kamu, Radit!”
‘Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa?’
‘Ya udah. Mama ke bawah, deh!” seru Ibunya, lalu menutup pintu kamar Radit.
Hening.
Beberapa detik kemudian, dia membuka pintu kamar Radit lagi.
‘Pokoknya kamu jangan takut ya, Radit,’ kata Ibunya, wajahnya tersembuh separuh dari balik pintu kamar yang setengah terbuka. ‘Adik-adik kan semua tidur di bawah sama mama. Lampu lantai dua semuanya sudah mati. Tangganya aja gelap, jangan takut ya, mama turun ya.’
‘Iya iya,’ kata Radit, yang memang tidak takut.

Radit mengela napas, kembali memandangi langit-langit kamar.
Nyokab menutup pintu.

Hening

Beberapa detik kemudian, kepala Ibunya kembali nongol dari balik pintu. Dia bilang, ‘Dit, kamu enggak haus?’
Radit menggelangkan kepala, ‘Enggak, kenapa, Ma?’
‘Yakin gak haus? Coba kamu rasain dulu, kamu haus kali….’
‘Enggak. Kenapa, Ma?’
‘Pasti kamu haus. Orang itu kadang gak sadar kalau dia haus, eh tiba-tiba dehidrasi. Bahaya loh. Nah, di bawah ada minum. Jadi, kalau mau turun, sekalian aja sama Mama’
‘Mama… takut turun sendirian ya?’ Tanya Radit.
‘Ini semua gara-gara kamu Radit, pake cerita soal kuntilanak segala! Durhaka kamu ya! nyokab sewot.

Karena tidak mau apa yang terjadi pada Malin Kundang kembali terjadi kepada Radit, maka Radit setengah malas nemenin ibunya ke bawah. Tangannya mencengkram bahu Radit erat.

Daftar pustaka
Dika, Raditya. 2011. Manusia Setengah Salmon. Jakarta: Gagas Media

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s